Menulis Lagi

lagi-copyLama juga saya tidak mengetik satu, dua, tiga kalimat atau bahkan lebih di blog ini. mencoba menggali kembali ide yang sempat tak tertuliskan, mungkin itu yang bisa dilakukan. yaa… yang jelas targetnya cuma bisa lagi menulis. sekedar mengisi waktu luang, atau meluangkan waktu. hehehehe… tunggu tulisan terbaru saya di blog ini.

 

Aku Memilih Karena Agamamu

“Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Maha suci Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi.

Memilih pasangan hidup bukan seperti memilih baju dipasar. Yang tampak baguslah yang dipilih, bukan seperti itu. Menurut hadist diatas ada 4 faktor seorang laki-laki menikahi seorang wanita diantaranya adalah karena kekayaan, kedudukan, kecantikan, dan agama.

banyak orang mencari pasangan hidup hanya melihat dari luarnya saja. Kecantikan adalah faktor yang mudah dilihat secara langsung. Tidak heran ada jargon yang menyebutkan “cinta pada pandangan pertama”. Kekayaan adalah faktor yang lebih pada materi. hidup di dunia bukan hanya untuk mencari kekayaan saja. Orang yang mempunyai prinsip kapitalis akan menganggap hidup didunia hanya sekali untuk berfoya-foya dan bagaimana mengumpulkan banyak uang. tetapi ingat, sebanyak apapun harta kita di dunia tidak akan kita bawa mati. selanjutnya adalah kedudukan, lelaki menikahi menikahi wanita karena ingin kedudukan didunia. orang semacam ini akan terus menerus mencari yang namanya posisi dengan cara apapun.

yang terakhir adalah orang yang menikahi karena agamanya. Agama Merupakan ilmu untuk hidup. Tanpa agama hidup tidak akan terarah kepada kebaikan. Menikah tentunya bertujuan untuk mencari ridho Alloh semata. “Barangsiapa kawin (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separo agamanya, karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separonya lagi” (HR. Al Hakim dan Ath-Thahawi). Betapa indahnya jika keluarga yang dibangun berdasar atas kasih sayang yang diberi Alloh. Predikat keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah adalah yang dicita-citakan setiap keluarga. Tentunya bangunan keluarga akan kuat akan melindungi yang ada didalamnya baik di dunia dan di akherat.

UU Tentang Penggunaan Sirine

Mengacu pada UU Nomor 14 Tahun 1992 dan Pasal 72 PP Nomor 43 Tahun 1993, tentang Prasarana dan Lalu Lintas, bahwa isyarat peringatan dengan bunyi yang berupa sirene hanya dapat digunakan oleh:

a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas termasuk kendaraan yang diperbantukan untuk keperluan pemadam kebakaran.
b. Ambulans yang sedang mengangkut orang sakit.
c. Kendaraan jenazah yang sedang megangkut jenazah.
d. Kendaraan petugas penegak hukum tertentu yang sedang melaksanakan tugas.
e. Kendaraan petugas pengawal kendaraan Kepala Negara atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara.

Sedangkan di PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 1993 TENTANG KENDARAAN DAN PENGEMUDI, Pasal 66 disebutkan:
Lampu isyarat berwarna biru hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor :

a. Petugas penegak hukum tertentu.
b. Dinas pemadam kebakaran.
c. Penangulangan bencana.
d. Ambulans.
e. Unit palang merah.
f. Mobil jenazah.

Dan Pasal 67, disebutkan : Lampu isyarat berwarna kuning hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor :

a. Untuk membangun, merawat, atau membersihkan fasilitas umum.
b. Untuk menderek kendaraan.
c. Untuk pengangkut bahan berbahaya dan beracun, limbah bahan berbahaya dan beracun, peti kemas dan alat berat.
d. Yang mempunyai ukuran lebih dari ukuran maksimum yang diperbolehkan untuk dioperasikan di jalan.
e. Milik instansi pemerintah yang dipergunakan rangka keamanan barang yang diangkut.
Bagi pemilik kendaraan pribadi dilarang membunyikan sirine dan memasang lampu rotator jika tidak termasuk dari golongan tersebut di atas.

Komitmenku dan mu

“Bukankah KOMITMEN itu adalah janji yang harus dibayar?
Atau jika tidak maka jangan sampai kemunafikan mengikuti jiwa-jiwa yang suci,
Yang mematikan hati setiap insan disebelahmu dan engkau sendiri,
Jika kamu ingat dia adalah kekasihmu, jika kamu rasa dia akan menguatkanmu, peluklah dan genggam dia seperti akar yang kuat tertancap…”

POLA KEPEMIMPINAN

Pada dasarnya manusia diciptakan di muka bumi ini adalah sebagai pemimpin. Dalam hal ini untuk menguasai bumi dan seisinya. Termasuk didalamnya adalah memimpin diri sendiri. Ada pula yang memimpin suatu kelompok, umat, Negara, dll. Namun banyak yang masih menerka-nerka bagaimana menjadi pemimpin yang baik?

Mahasiswa berdemo menuntut kepada pemerintah bahwa kepeminpinannya telah gagal dalam mengawal Negara kepada sebuah kesejahteraan. Artinya kepemimpinan pemerintah kurang bisa diterima oleh kalangan tertentu. Seorang kepala sekolah dikeluarkan karena korupsi sejumlah dana kas sekolah. Kepala sekolah tersebut adalah pemimpin tetapi dia tidak bisa mengemban amanah sebagai kepala sekolah. Dari ilustrasi diatas menunjukkan beberapa pemimpin yang dinilai gagal dalam mengemban kepemimpinan.

Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia lakukan selama ia memimpin. Jika manusia dilahirkan di bumi sebaagai pemimpin maka kelak manusia akan dimintai pertanggung jawabannya.

Nabi Muhammad SAW mencontohkan kepada kita dengan gaya kepemimpinannya. Beliau memiliki 4 sifat yaitu:
1. Sidiq (benar/ jujur)
2. Amanah (dapat dipercaya)
3. Tabligh (menyampaikan)
4. Fatonah (cerdas)
Dari keempat sifat tersebut tentunya dapat menjadi rujukan bagi setiat umat untuk mencontoh gaya kepemimpinan Rasululloh.

Yang perlu dipahami setiap pemimpin adalah ia memimpin. Artinya ada tanggung jawab moral. Pemimpin adalah uswah (contoh) bagi yang dipimpin. Ada yang menyebutkan bahwa “ moral rakyat mencerminkan moral pemimpin”. Maksud dari kalimat tersebut adalah kita bisa melihat bagaimana pola kepemimpinannya dengan cara melihat dari yang ia pimpin.

Kebijaksanaan diperlukan dalam sebuah kepemimpinan. Apa yang dilakukan seorang pemimpin haruslah tidak mementingkan kepentingannya sendiri, akan tetapi juga mementingakan kepentingan orang banyak. (lebih lengkap tentang kebijaksanaan bisa dibaca di tulisan “Bagaimana menjadi insane yang bijaksana”)

Pemaknaan cerdas bukan hanya pintar pada pikiran saja tetapi juga menggunakan perasaan. Agar keduanya seimbang maka seorang pemimpian harus bisa memposisikan dirinya pada kondisi apapun.

Pembentukan pola kepemimpinan juga harus dibangun dari bawah. Artinya seorang meminpin lebih bisa mendengarkan bawahannya dari pada ia didengarkan. Mendengarkan apa saja yang dikeluhkan bawahannya, sehingga ia bisa lebih objektif terhadap apa yang akan dilakukan.

Tidak lepas dari itu adalah memahami. Memahami bawahan. Terkadang orang terjebak oleh egosentris yang memposisikan manusia sebagai makhluk yang tak terbatas. Artinya orang yang memiliki egosentris masih belum bisa bersikap dewasa dalam menghargai orang sekelilingnya. Ia akan cenderung memaksakan keingingananya kepada orang lain. Jeratan inilah yang kemudian diistilahkan menjadi ego. Tentunya pemimpin yang yang mempunyai ego tinggi akan terjebak ke dalam akuisme. Al hasil nihil untuk menerapkan kepemimpinan yang berasaskan kebersamaaan. Terdapat pepatah yang mengatakan mengaLah itu bukan karena kalah.

Tetap berpegang teguh pada agama merupakan pedoman yang wajib ketika menjadi seorang pemimpin. Agama telah mengajarkan cara-cara meraih kebaikan ketika manusia dibumi. Maka tidak ada salahnya jika kita semua mengikuti ajaran yang telah ditorehkan agama.

Penyimpangan norma social dan norma agama tentunya tidak terlepas dari tidak tahunya atau dengan artian terlepasnya orang tersebut dengan tali agama. Dalam hidup manusia tidak tahu kapan ia akan dipanggil untuk dimintai pertanggung jawabannya. Maka dari itu setiap manusia wajib mempersiapkan hidupnya untuk kematian agar suatu saat ia dipanggil maka ia sudah siap bekal untuk kesana.

Bagaimana Menjadi Insan yang Bijaksana


”Menjadi Tua Itu Pasti Tetapi Menjadi Bijaksana Itu Pilihan”

Peribahasa diatas patut ditujukan untuk semua orang terutama orang yang masih muda. Sejatinya semua orang akan menjadi orang tua, akan tetapi tidak banyak orang tua yang bisa menjadi orang tua yang bijaksana ataupun orang yang masih muda tetapi melalaikan suatu hal yang dinamakan kebijaksanaan.

Kebijaksanaan Merupakan Pilihan
Menurut saya kebijaksanaan merupakan suatu keteladanan sikap antara pikiran, hati, dan tingkah laku. Banyak orang yang berbuat sesuatu tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dari apa yang dilakukan. Filosofi jangka panjang bisa diterapkan dalam berbuat sesuatu. Meskipun terkadang harus mengorbankan tujuan jangka pendek. Sebuah contoh filosofi jangka panjang adalah ketika menabung. Seorang anak sekolah bisa saja menggunakan uang jajannya untuk membeli makanan yang ia butuhkan saat itu juga akan tetapi seorang anak yang bijaksana akan menggunakan uang untuk ditabug dan dikemudian hari ia gunakn untuk membeli barang yang tentunya lebih bermakna dari sekedar makanan ringan yang ia beli. Artinya tujuan jangka pendek anak tersebut adalah uang jajan yang digunakan untuk membeli makanan dan filosofi jangka panjangnya adalah membeli barang yang lebih berharga dari sekedar makanan. Tentunya ia tidak harus meminta uang lagi kepada orang tuanya dan yang pasti sang orang tua akan bangga memiliki anak seperti ini.

Itulah sedikit contoh tentang kebijaksanaan yang paling sederhana. Dari analogi diatas tentunya bisa diambil hikmah yaitu mementingkan tujuan jangka panjang meski mengorkankan tujuan jangka pendek. Alhasil anak tersebut bisa mendapatkan hal yang lebih dari sekedar makanan.

Berguru Kepada Orang Lugu
Jangan sekali-kali meremehkan orang lugu. Karena orang inilah sekiranya bertindak sesuai dengan hati dan fikiran. Sikap apa adanya perlu diterapkan oleh bangsa ini. Bangsa ini telah teracuni virus kepentingan-kepentingan pribadi yang hanya ingin membesarkan perut sendiri. Sama halnya dengan orang lugu, dia memiliki sikap yang apa adanya dan tidak sama sekali dibuat-buat. Kejujuran dalam bertindak dan berkata itulah yang perlu dicontoh dari orang lugu.

sikap “nrimo” tidak selalu dikonotasikan sebagai sikap langsung menerima tanpa berfikir panjang, akan tetapi “nrimo” lebih kepada meng-iyakan dengan hati tanpa ada keraguan. Sikap ini bisaanya dimiliki oleh orang yang dikategorikan sebagai orang lugu.

Sekarang ini banyak orang yang berkamuflase atau bermuka dua. Disana berperan seperti itu tetapi disini berperan seperti ini. Hal inilah yang menyebabkan ketidak seimbangan antara perilaku dan pikiran. Tentunya orang macam ini mempunyai kepentingan pribadi yang tidak ada seorangpun yang tau maksudnya. Orang seperti inilah yang harus dihindari dalam kehidupan. Karena dia akan menjadi benalu kepada siapapun yang ada didekatnya. Didalam panggung politik orang bermuka 2 sangat banyak ditemukan. Bahkan hamper semua harus berperan seperti itu. Tentunya hal tersebut bertujuan untuk mengegolkan kepentingan pribadi maupun kelompok, kalau ia atau mereka berkata untu kepentingan orang banyak maka perlu dipertanyakan.

Sabar adalah proyeksi jangka panjang

“Orang sabar disayang Tuhan”

Pemaknaan sabar bukan hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu dan pasrah terhadap keadaan. Tapi sabar lebih kepada sikap kita untuk menarik dan menahan diri dari hal-hal yang berakibat lebih parah dari apa yang dibayangkan. Inilah yang terkadang dilalaikan orang. Manusia mempunyai hawa nafsu, dan nafsu dibagi menjadi 2 yakni nafsu baik dan nafsu buruk. Tetapi yang sering keluar adalah nafsu yang buruk. Inilah yang sebenarnya menjadi pemicu adanya perlakuan yang bertambah parah.

Kemarahan merupakan buah dari nafsu buruk. Orang dikatakan marah tentunya dia tidak bisa menjaga hawa nafsu. Jika saja dia berfikir jernih dalam panasnya suasana maka dia akan bersabar demi menanggulangi keadaan yang lebih parah dari sebelumnya. Kesabaran ada batasnya. Pernyataan ini tidak saya nafikkan. Karena setiap manusia mempunyai kapasitas kesabaran. Namun tidak ada salahnya jika nafsu dibendung.

Dengan bersabar tentunya bukan untuk kepentingan sekarang tetapi untuk jangka panjang. Seperti analogi awal tentang menabung. Anak tersebut tentunya bersabar untuk tidak memakai uang tersut tetapi ketika uang sudah terkumpula banyak dia akan membelikan barang yang ia inginkan.

Menghargai orang lain
Banyak orang yang ingin menang sendiri. Banyak orang yang ingin dihargai tetapi orang yang ingin dihargai bisaanya tidak akan dihargai orang lain. Tidak dinafikkan bahwa setiap manusia ingin dihargai tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang yang cari muka. Kembali lagi ke istilah “apa adanya” yakni antara pikiran, ucapan dan tingkah laku sama. Itulah sikap apa adanya.

“Orang picik akan melihat sesuatu tanpa memahaminya”

Secara bahasa Picik adalah orang yang penglihatannya tidak normal. Orang picik akan melihat sesuatu tanpa memahami. Maksud dari memahami ini adalah dia dia melihat apa yang ia lihat tetapi dia tidak melihat apa yang seharusnya dia lihat. Terlebih orang macam ini akan mudah menyimpulkan apa yang hanya ia lihat.

Ada sebuah cerita tentang 3 orang buta (katakanlah bernama Nano, Anto, dan Mega) yang pergi ke kebun binatang. Ketiga orang buta tersebut penasaran akan bentuk hewan yang dinamakan gajah. Karena dari lahirpun mereka tidak pernah melihat gajah. Tibalah 3 orang itu dikebun binatang lalu mereka menuju ke kandang gajah. Untuk mengetes bentuk gajah Nano memegang bagian belalai, Anto memegang perut, dan mega memegang telinga. Beberapa saat kemudian setelah mereka bertiga memegang bagian tubuh dari gajah tersebut lalu Nano bilang bahwa gajah itu berbentuk seperti corong yang panjang, Anto bilang bahwa gajah itu berbentuk besar dan memal, sedangkan Mega mengatakan gajah itu pipih dan lebar. Selanjutnya mereka bertiga saling memegang prinsipnya sendiri-sendiri tentang bentuk gajah.

Dari ilustrasi diatas tentunya dapat diambil hikmah yakni kita harus melihat secara keseluruhan untuk dapat mengetahui apalagi memahaminya. Bentuk corong panjang, besar dan memal dan pipih tapi lebar merupakan bagian dari bentuk gajah keseluruhan. Kita tidak boleh memaknainya perbagian jika tidak ingin dikategorikan orang picik.

Orang akan mudah mengambil sisi negative dari pada memikirkan sisi positif orang lain. “ngrasani” adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dimanapun. Karena perbuatan ini mengekspos kejelekan orang lain. Positif tinking merupakan kunci jika ingin melihat secara keseluruhan. Pandang pada sisi kebaikannya bukan dari sisi buruknya. Dari situlah cara untuk menghargai orang lain.

Hati adalah cermin
“ojo jiwit nek ra gelem dijiwit (jangan mencubit kalau tidak mau dicubit)”

Dari pepatah jawa di atas tentunya bisa disimpulkan jika ingn melakukan sesuatu kepada orang lain maka kembalikanlah kepada diri sendiri. Jika kita senang tentang hal yang akan kita perbuat kepadanya maka hal ini berarti kita berbuat kebaikan kepada sesame. Akan tetapi jika hal yang akan kita perbuat ini tidak kita senangi maka jangan sampai kita lakukan kepada orang lain.

Seorang atasan bisaanya memarahi bawahan ketika si bawahan melakukan kesalahan. Jika si atasan adalah orang yang bijaksana maka dia akan mengembalikan apa yang akan dilakukan kepada hatinya. Jika si atasan tidak suka dimarahi maka ia tidak akan memarahi bawahan. Tetapi ia akan tetap menegur dengan cara yang halus.

Segalanya kembalikan kepada diri sendiri. Jadikan hati sebagai cermin kehidupan. Dengan cermin tersebut akan memantulkan apa yang sebenarnya dihadapan cermin. Jika iya maka iya, dan jika tidak jangan di paksa untuk menjadi iya. Karena semua sudah ada porsinya.

Blog ini adalah blog yang dibangun atas dasar keikhlasan dan kebijaksanaan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.