Bagaimana Menjadi Insan yang Bijaksana


”Menjadi Tua Itu Pasti Tetapi Menjadi Bijaksana Itu Pilihan”

Peribahasa diatas patut ditujukan untuk semua orang terutama orang yang masih muda. Sejatinya semua orang akan menjadi orang tua, akan tetapi tidak banyak orang tua yang bisa menjadi orang tua yang bijaksana ataupun orang yang masih muda tetapi melalaikan suatu hal yang dinamakan kebijaksanaan.

Kebijaksanaan Merupakan Pilihan
Menurut saya kebijaksanaan merupakan suatu keteladanan sikap antara pikiran, hati, dan tingkah laku. Banyak orang yang berbuat sesuatu tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dari apa yang dilakukan. Filosofi jangka panjang bisa diterapkan dalam berbuat sesuatu. Meskipun terkadang harus mengorbankan tujuan jangka pendek. Sebuah contoh filosofi jangka panjang adalah ketika menabung. Seorang anak sekolah bisa saja menggunakan uang jajannya untuk membeli makanan yang ia butuhkan saat itu juga akan tetapi seorang anak yang bijaksana akan menggunakan uang untuk ditabug dan dikemudian hari ia gunakn untuk membeli barang yang tentunya lebih bermakna dari sekedar makanan ringan yang ia beli. Artinya tujuan jangka pendek anak tersebut adalah uang jajan yang digunakan untuk membeli makanan dan filosofi jangka panjangnya adalah membeli barang yang lebih berharga dari sekedar makanan. Tentunya ia tidak harus meminta uang lagi kepada orang tuanya dan yang pasti sang orang tua akan bangga memiliki anak seperti ini.

Itulah sedikit contoh tentang kebijaksanaan yang paling sederhana. Dari analogi diatas tentunya bisa diambil hikmah yaitu mementingkan tujuan jangka panjang meski mengorkankan tujuan jangka pendek. Alhasil anak tersebut bisa mendapatkan hal yang lebih dari sekedar makanan.

Berguru Kepada Orang Lugu
Jangan sekali-kali meremehkan orang lugu. Karena orang inilah sekiranya bertindak sesuai dengan hati dan fikiran. Sikap apa adanya perlu diterapkan oleh bangsa ini. Bangsa ini telah teracuni virus kepentingan-kepentingan pribadi yang hanya ingin membesarkan perut sendiri. Sama halnya dengan orang lugu, dia memiliki sikap yang apa adanya dan tidak sama sekali dibuat-buat. Kejujuran dalam bertindak dan berkata itulah yang perlu dicontoh dari orang lugu.

sikap “nrimo” tidak selalu dikonotasikan sebagai sikap langsung menerima tanpa berfikir panjang, akan tetapi “nrimo” lebih kepada meng-iyakan dengan hati tanpa ada keraguan. Sikap ini bisaanya dimiliki oleh orang yang dikategorikan sebagai orang lugu.

Sekarang ini banyak orang yang berkamuflase atau bermuka dua. Disana berperan seperti itu tetapi disini berperan seperti ini. Hal inilah yang menyebabkan ketidak seimbangan antara perilaku dan pikiran. Tentunya orang macam ini mempunyai kepentingan pribadi yang tidak ada seorangpun yang tau maksudnya. Orang seperti inilah yang harus dihindari dalam kehidupan. Karena dia akan menjadi benalu kepada siapapun yang ada didekatnya. Didalam panggung politik orang bermuka 2 sangat banyak ditemukan. Bahkan hamper semua harus berperan seperti itu. Tentunya hal tersebut bertujuan untuk mengegolkan kepentingan pribadi maupun kelompok, kalau ia atau mereka berkata untu kepentingan orang banyak maka perlu dipertanyakan.

Sabar adalah proyeksi jangka panjang

“Orang sabar disayang Tuhan”

Pemaknaan sabar bukan hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu dan pasrah terhadap keadaan. Tapi sabar lebih kepada sikap kita untuk menarik dan menahan diri dari hal-hal yang berakibat lebih parah dari apa yang dibayangkan. Inilah yang terkadang dilalaikan orang. Manusia mempunyai hawa nafsu, dan nafsu dibagi menjadi 2 yakni nafsu baik dan nafsu buruk. Tetapi yang sering keluar adalah nafsu yang buruk. Inilah yang sebenarnya menjadi pemicu adanya perlakuan yang bertambah parah.

Kemarahan merupakan buah dari nafsu buruk. Orang dikatakan marah tentunya dia tidak bisa menjaga hawa nafsu. Jika saja dia berfikir jernih dalam panasnya suasana maka dia akan bersabar demi menanggulangi keadaan yang lebih parah dari sebelumnya. Kesabaran ada batasnya. Pernyataan ini tidak saya nafikkan. Karena setiap manusia mempunyai kapasitas kesabaran. Namun tidak ada salahnya jika nafsu dibendung.

Dengan bersabar tentunya bukan untuk kepentingan sekarang tetapi untuk jangka panjang. Seperti analogi awal tentang menabung. Anak tersebut tentunya bersabar untuk tidak memakai uang tersut tetapi ketika uang sudah terkumpula banyak dia akan membelikan barang yang ia inginkan.

Menghargai orang lain
Banyak orang yang ingin menang sendiri. Banyak orang yang ingin dihargai tetapi orang yang ingin dihargai bisaanya tidak akan dihargai orang lain. Tidak dinafikkan bahwa setiap manusia ingin dihargai tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang yang cari muka. Kembali lagi ke istilah “apa adanya” yakni antara pikiran, ucapan dan tingkah laku sama. Itulah sikap apa adanya.

“Orang picik akan melihat sesuatu tanpa memahaminya”

Secara bahasa Picik adalah orang yang penglihatannya tidak normal. Orang picik akan melihat sesuatu tanpa memahami. Maksud dari memahami ini adalah dia dia melihat apa yang ia lihat tetapi dia tidak melihat apa yang seharusnya dia lihat. Terlebih orang macam ini akan mudah menyimpulkan apa yang hanya ia lihat.

Ada sebuah cerita tentang 3 orang buta (katakanlah bernama Nano, Anto, dan Mega) yang pergi ke kebun binatang. Ketiga orang buta tersebut penasaran akan bentuk hewan yang dinamakan gajah. Karena dari lahirpun mereka tidak pernah melihat gajah. Tibalah 3 orang itu dikebun binatang lalu mereka menuju ke kandang gajah. Untuk mengetes bentuk gajah Nano memegang bagian belalai, Anto memegang perut, dan mega memegang telinga. Beberapa saat kemudian setelah mereka bertiga memegang bagian tubuh dari gajah tersebut lalu Nano bilang bahwa gajah itu berbentuk seperti corong yang panjang, Anto bilang bahwa gajah itu berbentuk besar dan memal, sedangkan Mega mengatakan gajah itu pipih dan lebar. Selanjutnya mereka bertiga saling memegang prinsipnya sendiri-sendiri tentang bentuk gajah.

Dari ilustrasi diatas tentunya dapat diambil hikmah yakni kita harus melihat secara keseluruhan untuk dapat mengetahui apalagi memahaminya. Bentuk corong panjang, besar dan memal dan pipih tapi lebar merupakan bagian dari bentuk gajah keseluruhan. Kita tidak boleh memaknainya perbagian jika tidak ingin dikategorikan orang picik.

Orang akan mudah mengambil sisi negative dari pada memikirkan sisi positif orang lain. “ngrasani” adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dimanapun. Karena perbuatan ini mengekspos kejelekan orang lain. Positif tinking merupakan kunci jika ingin melihat secara keseluruhan. Pandang pada sisi kebaikannya bukan dari sisi buruknya. Dari situlah cara untuk menghargai orang lain.

Hati adalah cermin
“ojo jiwit nek ra gelem dijiwit (jangan mencubit kalau tidak mau dicubit)”

Dari pepatah jawa di atas tentunya bisa disimpulkan jika ingn melakukan sesuatu kepada orang lain maka kembalikanlah kepada diri sendiri. Jika kita senang tentang hal yang akan kita perbuat kepadanya maka hal ini berarti kita berbuat kebaikan kepada sesame. Akan tetapi jika hal yang akan kita perbuat ini tidak kita senangi maka jangan sampai kita lakukan kepada orang lain.

Seorang atasan bisaanya memarahi bawahan ketika si bawahan melakukan kesalahan. Jika si atasan adalah orang yang bijaksana maka dia akan mengembalikan apa yang akan dilakukan kepada hatinya. Jika si atasan tidak suka dimarahi maka ia tidak akan memarahi bawahan. Tetapi ia akan tetap menegur dengan cara yang halus.

Segalanya kembalikan kepada diri sendiri. Jadikan hati sebagai cermin kehidupan. Dengan cermin tersebut akan memantulkan apa yang sebenarnya dihadapan cermin. Jika iya maka iya, dan jika tidak jangan di paksa untuk menjadi iya. Karena semua sudah ada porsinya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s