Neo Kolonialisme

Kalau kita berbicara tentang colonial pasti persepsi kita langsung tertuju kepada Belanda yang menjajah Indonesia kurang lebih 3,5 abad atau 350 tahun. Mencengangkan memang apabila mendengar hal tersebut. Belum hilang dari ingatan kita yaitu VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). VOC adalah korporasi multi nasional pertama dalam sejarah dan merupakan perusahaan pertama yang menerbitkan saham (Amien Rais:Selamatkan Indonesia:4). VOC diberi wewenang oleh Negara Belanda untuk menjajah dan mengambil hasil kekayaan alam yang dimiliki oleh negara jajahannya. Hal tersebut dilakukan untuk menyaingi kongsi dagang negara Eropa yang lain. Pada tahap pertama penduduk Indonesia dianjurkan untuk menanam pohon cengkeh yang akhirnya akan dibeli pihak Belanda dengan harga yang sangat murah. Tentu pada saat itu mau tidak mau penduduk Indonesia harus menanam cengkeh kalau dia ingin selamat. Namun, setelah pergantian pemimpin karena pemimpin sebelumnya dirasa gagal ada tahap kedua yaitu pihak Belanda membuat sertifikasi tanah yang dimiliki oleh penduduk Indonesia ditambah lagi penduduk harus menanam cengkeh seperti sebelumnya. Dari hal tersebut jelas penduduk Indonesia harus membayar tanah yang ia miliki selama bertahun-tahun kepada belanda dan juga menjual hasil dari cengkehnya tadi. Inilah puncak dari hegemoni belanda terhadap penduduk di Indonesia. Metode penjajahan tersebut dilakukan selama bertahun-tahun yang akhirnya sangat menyengsarakan rakyat Indonesia. Terlebih lagi adanya sistem kerja paksa untuk membuat jalan sepanjang pulau jawa dari Anyer sampai ke Panarukan tanpa diberi upah sepeser pun. Banyak nyawa yang tumbang disepanjang jalan. Namun, saking kejamnya belanda tidak mempermasalahkan hal tersebut,

Hal diatas menunjukkan sudah beratus-ratus tahun Negeri Indonesia yang tercinta ini diperlakukan seperti buruh padahal Indonesialah yang menjadi tuan rumah. Apakah pantas seorang tamu menyuruh yang empunya rumah untuk mengambil kekayaan yang dimiliki dari memberikannya kepada tamuu tersebut? Atau dengan kata lain si tamu malah menguasai rumah yang punya rumah dan mengambil kekayaan yang dimiliki. Seperti itulah nasib Indonesia pada waktu itu. Pertanyaaan yang terlonyar sekarang adalah, apakah hal tersebut akan terulang pada Indonesia sekarang ini?

Jawabannya adalah Ya. Pada awal masa pemerintahan Soeharto terdapat suatu udang-undang tentang penanaman modal asing ke Indonesia. Udang-undang tersebut dirasa banyak kalangan akan terulang kembali penjajahan atas aset-aset negara yang disedot oleh perusahaan asing. Banyak demonstrasi yang dilakukan untuk menentang kebijakan tersebut. Namun soeharto tetap menandatanganinya. Usaha mahasiswa dan demonstran tidak berhasil rupanya. Malahan banyak nyawa pendemo yang gugur karena kekejaman aparat. Sehingga peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa MALARI (Malapetaka Lima belas Januari).

Udang-undang tentang penanaman modal asing itulah yang memprakarsai neokolonialisme di Indonesia. Dari pengertiannya pun kita tahu neokolonialisme berarti penjajahan atas aset-aset yang dimiliki negara lalu membawanya ke negara asal dengan mempekerjakan penduduk lokal. Dari hal tersebut muncul berbagai perusahaan asing yang masuk di Indonesia. Langkah inilah yang dipakai VOC pada 410 tahun yang lalu yang ujung-ujungnya menjajah Indonesia selama 350 tahun. Ditambah lagi Soeharto mengadakaan kerja sama dengan IMF dan World Bank. Indonesia mengadakan hutang dari kedua instansi dunia tersebut. Tentu saja tidak semata-mata hutang tapi ada bunga beberapa persen yang harus ditanggung. Dari situlah Indonesia kembali dijajah dalam segi ekonomi dan sumber daya yang kita punyai.

Bisa disebutkan PT. Free Port. Dia adalah perusahaan emas terbesar didunia milik Amerika yang salah satu lokasinya adalah di Irian Jaya. PT. Free Port menambang emas sejak kurang lebih 30 tahun yang lalu. Dia mengeruk ratusan ribu ton tanah yang mengandung emas dalam pertahunnya. Ditambah lagi sebelum kontrak dari PT. Free Port habis perusahaan tersebut memperpanjang kontrak. Betapa kekayaan alam Indonesia akan disedot dengan adanya tikus tanah modern itu. Perusahaan yang lain adalah PT Newmont. PT Newmont juga bergerak dibidang penambangan. Tidak kalah mengerikan dengan perusahaan sebelumnya, PT Newmont juga perusahaan asing yang nangkring ditanah Indonesia dan mengambil hasil alam. Yang menjadi permasalahan utama pada perusahaan ini adalah PT Newmont membuang limbah sisa-sisa penambangan ke lingkungan sekitar. Tentunya hal ini berakibat sangat buruk bagi warga yang mendiami area tersebut. Warga teluk Buyat adalah orang-orang yang paling menderita yang dikarenakan oleh limbah tersebut. Hal ini disebabkan kandungan air laut yang biasanya warga lokal pakai untuk keperluan sehari-hari baik mandi, mencuci, hingga makan tercemar oleh zat kimia yang bernama ”merkuri” atau dalam bahasa Indonesianya air raksa. Tentunya air raksa sangat beracun apabila dikonsumsi bagi tubuh walaupun hanya sedikit saja. Muncullah penyakit yang aneh-aneh pada warga dari pernafasan sampai penyakit kulit. Bahkan sampai ada bayi yang meninggal karena zat tersebut. Contoh lain adalah pabrik air minum terkemuka yaitu Aqua milik Danone yang berada di klaten. Perusahaaan tersebut menyerap air dan menjualnya kepada rakyat Indonesia. Lama-lama sumber air yang ada didaerah itu akan disedot semua atau dengan kata lain perusahaan air minum itu memonopoli air yang ada disekitar, akibatnya daerah sekitar akan krisis air dan mau tidak mau warga harus membeli air pada perusahaan itu. Disebuah iklan aqua terdapat slogan ” satu liter untuk sepuluh luter”, masa menolong orang lain saja harus membeli produk 1 liter dulu? Berarti sangat jelas kan bahwa ini sebuah penindasan atau ”penjajahan”.

Diatas tadi adalah beberapa kasus tentang praktek neokolonial yang terjadi di Indonesia. Hal ini tentu sangat merugikan bangsa dari segi ekonomi sumber daya alam. Rakyat akan sangat terbebani dengan adanya praktek imperialisme ini. Memang sangat bermanfaat juga bagi rakyat Indonesia karena perusahaan asing tersebut membuka banyak lapangan kerja khususnya untuk masyarakat menengah ke bawah. Kalau kita lihat kedepan perusahaan-perusahaan yang bermodal besar suatu saat mereka akan mengganti pekerja manusia menjadi pekerja mesin. Tentu saja manusia akan tersingkir dengan adanya pekerja mesin ini. Semua produksi akan dikerjakan oleh mesin. Lalu perusahaan akan memutus hubungan kerja hingga pada saatnya akan banyak pengangguran disana-sini. Lagi-lagi Rakyatlah yang menjadi korban atas korporatokrasi yang ada.

Jika kita merujuk negara India dan Venezuela mereka adalah negara yang nasionalis dengan tidak ada penanaman modal asing di negara itu. Kita tahu India sekarang menjadi negara kaya karena mereka mengolah hasil alam yang mereka punyai sendiri. Dalam segi pangan India bisa mencukupi kebutuhannya, bahkan dapat mengekspor beras. Dari trasportasi India memiliki perusahaan bajaj yang kita ketahui sangat berisik apabila dijalankan. Namun kendaraan itu justru menjadi kendaraan nasional India malahan sekarang Indonesia mengimpor Bajaj. Kenapa negara Indonesia yang kita cintai ini tidak mencontoh negara India maupun Venezuela? Dengan menolak penanaman modal asing dan membuka sendiri lapangan kerja yang dimiliki, dimotori, dan dikendalikan nasional
Kita tidak akan kalah dengan negara-negara maju yang lain. Jangan salah lho apa gunanya sarjana teknik, sarjana ekonomi, sarjana pendidikan, dan sarjana yang lain. Toh perusahaan asing yang masuk juga memerlukan tenaga dari Indonesia hanya saja yang membedakan adalah modal dan pemilik modal. Indonesia bukan negara kaya bila diukur dari uangnya tapi Indonesia punyai kekayaan alam yang super duper kaya dibanding negara lain. Namun tidak ada salahnya apabila memulai dari kecil.

2 thoughts on “Neo Kolonialisme”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s