Kebudayaan vs Akhidah

Penyakit Tahayul, bid’ah, dan Khurafat tidak lepas dari pendirian Muhammadiyah. Sebelum Muhammadiyah didirikan ketiga penyakit tersebut menjangkit dikalangan masyarakat. Saat itu masyarakat masih menganut system kepercayaan Animisme maupun dinamisme. Karena itulah Islam mengharamkan perbuatan yang mendekati Syirik. Jangankan pada Muhammadiyah belum lahir tapi sekarang pun masih ada yang mempercayai tahayul.
Kebanyakan peninggalan kebudayaan jawa memang erat kaitannya dengan hal-hal yang berbau mistis. Dari benda-benda keramat sampai tempat keramat. Sebagai contoh kebudayaan Gunungan Sekaten yang pada awalnya diarak menuju alun-alun barat Surakarta dan akhirnya Gunungan yang berisi hasil kebun itu diperebutkan orang-orang. Masyarakat mempercayai bahwa apabila dengan memiliki hasil kebun yang telah mereka rebut itu, akan mendatangkan rizki. Contoh lain yang sangat tidak asing lagi adalah adanya yasinan. Yasinan adalah acara membacakan Surat Yasin kepada orang yang sudah meninggal. Tidak jarang didalam acara tersebut dijumpai semacam sesaji. Didalam Islam sendiri tidak mengajarkan acara atau ritual tersebut diatas. Namun permasalahannya ini sudah mengakar kepada masyarakat apalagi orang Jawa.
Pada awal mulanya Wali Songo menyampaikan dakwah Islam tidak secara langsung apa Islam itu sebenarnya. Wali Songo masih memasukkan unsure kebudayaan setempat yang terpengaruh terhadap agama Hindu dan Budha. Jika ajaran Islam langsung diberikan secara menyeluruh maka ditakuti Islam akan sulit diterima masyarakat setempat. Namun sampai saat ini setelah Islam sudah berkembang luas di Indonesia kebudayaan hasil agama Hindu dan Budha masih diterapkan pada kaum muslim.
Secara social kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, karsa dari suatu masyarakat tertentu. Kebudayaan bisa menjadi icon dari suatu daerah dan juga icon dari suatu Negara. Indonesia terkenal dengan Negara yang mempunyai banyak kebudayaan dari Sabang sampai Merauke. Daerah satu dengan daerah lain akan berbeda dari sisi bahasa, ritual adat, antropologi, dan lain-lain. Bahkan kebiasaan etnis yang sama pun tidak sedikit yang mempunyai kebiasaan yang berbeda.
Sebuah contoh studi kasus, orang yang tahu bahwa tahlilan menjurus kepada penyakit TBC tapi orang tersebut mendapat undangan tetangga. Permasalahannya apabila ia tidak menghadiri acara tersebut masyarakat sekitar akan ngerasani karena ketidak hadirannya. Namun sebaliknya apabila ia menghadiri undangan tersebut ia tahu bahwa acara tersebut menjurus ke TBC. Kasus yang kedua apabila muslim serentak untuk menolak hal-hal yang berbau TBC, maka Indonesia akan kehilangan banyak kebudayaan peninggalan nenek moyang yang akhirnya akan menghilangkan identitas Indonesia yang kaya akan kebudayaan daerahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s