DILEMA PASAR TRADISIONAL DI SOLO

Kalau kita berbicara tentang pasar trdisional tentu banyak persepsi dan devinisi mengenai hal tersebut. Ya… Pasar trdisional merupakan tempat jual-beli yang masih mempertahankan tradisi atau kultur dari daerah tersebut. Dari daerah A dan B tentu tradisi yang dianut pasti berbeda. Namun demikian ada hal yang mutlak dimiliki oleh pasar tradisional yakni ritual tawar menawar. Banyak orang mengatakan bahwa seni berbelanja adalah tawar menawar.

Banyak contoh-contoh pasar trdisional yang terdapat di Solo seperti: Pasar Klewer, Pasar Kartosuro,Pasar Gading, Pasar Legi, Pasar Jongke,Pasar Klitikan, Pasar Mojosongo, Pasar Nongko, Pasar Kembang, dan masih banyak lagi. Memang Solo dikenal sebagai salah satu kota yang masih mempertahankan budaya leluhur dibuktikan dengan masih kenyalnya adat atau tradisi jawa dari kraton Kasunanan dan Kraton Mangkunegaran. Dua kraton tersebut sangat berperan penting terhadap kebudayaan di Solo.

Pasar merupakan sentra kegiatan ekonomi masyarakat. Di pasar banyak ditemui beraneka ragam orang (penjuan dan pembeli), barang dagangan, dan aktifitas lain. Inti dari aktifitas yang ada didalam pasar antara lain:

  1. Pemenuhan kebutuhan
  2. Perputaran uang
  3. Silaturahim

Mungkin ada aktifitas lain yang dilakukan didalam pasar tapi 3 hal diatas adalah kegiatan yang bisaanya dilakukan orang-orang ketika dipasar.

Setelah berkembangnya era modernisasi yang senantiasa semakin Berjaya membuat  pasar tradisional ini semakin terpinggirkan. Adanya mall, super market, mini market yang menjamur senantiasa lebih menarik konsumen dari pada harus pergi ke pasar tradisional yang dituntut harus menawar barang, tempat yang kotor, orang-orang yang berjubelan. Pasar modern menawarkan hal yang efektif ketika berbelanja seperti pembeli tidak harus menawar lagi karena harga sudah pas, fasilitas ruangan yang bersih dan ber-AC yang membuat nyaman konsumen, pelayanan yang ramah dari penjual dll. Hal itulah  yang menjadi kekuatan pasar modern untuk menarik pembeli.

Namun demikian, ketika kita menilik lebih dekat lagi siapa yang mempunyai pasar-pasar modern. Ternyata tidak semua orang bisa mendirikannya. Orang yang berduitlah yang bisa membangun mall yang megah, mini market yang mempunyai cabang dimana-mana, super market yang mempunyai harga grosir. Dampaknya adalah kepada pasar tradisional yang tak berdosa. Konsumen lebih memilih pasar modern dengan segala fasilitas yang ditawarkan.

Katakanlah Solo Grand Mall, Alfamart, indomart, carefure, Solo square, dan sebagainya. Bisa dikatakan Solo menjadi kota besar karena terdapat Mall yang lumayan banyak. Ada Solo Grand Mall, Solo Square, luwes dan  Solo Centre Point yang sedang dibangun. Kecenderungan konsumen akan pergi ke pasar modern ini termasuk besar. Ternyata pasar yang selama ini hanya untuk kegiatan jual beli dimanipulasi dengan adanya pasar modern yang memasukkan unsure yang tidak ada dalam pasar tradisional. Tempat untuk nongkrong adalah salah satu fungsi pasar setelah dimanipulasi sedemikian hingga. Alasan fasion juga dapat ditarik sebagai orang-orang dating ke pasar tradisional.

Pasar yang sebelumnya menjadi pusat ekonomi tapi sekarang menjadi pusat modernisasi. Pasar yang seharusnya menjadi pusat jual-beli tapi menjadi pusat nongkrong. Perubahan paradigma yang cukup mencengangkan memang. Benar sekali selogan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Tidak jarang pemerintah kota memberikan perijinan terhadap pengembang yang ingin mendirikan Mall. Namun berbeda halnya dengan pasar tradisional yang semakin terpuruk. Malahan pemkot dibeberapa kota ada yang menggusur pasar tradisional dengan dalih penertiban kota. Meski ada juga yang hanya memindahkan lokasi pasar tersebut tapi tetap akan berdampak juga dengan kelangsungan ekonomi para pedagang.

Seharusnya pemerintah kota lebih bijaksana untuk menyikapi pasar tradisional dan pasar modern. Adanya pasar tradisional bukan menjadikan suatu kawasan menjadi kumuh dan kotor tapi disana adalah tempat kegiatan ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang senantiasa banyak dari mereka yang menggantungkan hidup dari adanya pasar tersebut. Sebenarnya Banyak cara ketika pemerintah ingin menertibkan adaanya pasar tradisional, yang jelas bukan dengan cara menggusurnya. Karena hal tersebut akan berdampak hilangnya mata pencarian masayarakat yang dampaknya juga terhadap sisi social dan ekonomi pada kota tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s