Tidak Ada Keadilan di Negara Ini (Hukum Di Indonesia Mandul Stadium 4)

Dimana keadilan pada Negara ini?

Pertanyaan yang pantas diberikan kepada lembaga peradilan yang makin hari makin merosot kepercayaannya dimata masyarakat. Mengapa tidak? Kasus demi kasus pada tahun 2008 ini telah membuktikan betapa mandulnya keadilan di Negara ini. Sebenarnya apa peran lembaga peradilan dalam meluruskan hukum yang sudah tertulis.

Jauh sebelum rezim SBY, permasalahan HAM juga sempat menjadi pergunjingan besar di Indonesia. Katakanlah pada zaman Soeharto, banyak penculikan yang dilakukan entah oleh siapa. Yang jelas semua mahasiswa yang hilang pada waktu itu adalah seorang aktivis yang tau kebobrokan dan menentang kepemimpinan Soeharto. Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan kebijakan tentang modal asing adalah beberapa alasan penyimpangan yang dilakukan orde baru.

Pada penghujung tahun 2008 ini terdapat beberapa berita yang bisa membuat kita menggelengkan kepaala terhadap lembaga peradilan. Beberapa kasus tersebut antara lain:

  1. Kasus bank century yang menggelapkan uang 6,7 trilyun. Kemana saja uang yang jika dibelikan beras bisa meratakan pulau Jawa, jika digunakan untuk investasi pembangkit listrik tidak akan lagi pemadaman, jika uang itu diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia secara rata per kepala mendapat Rp 29.000,-? Harusnya lembaga peradilanlah yang harus mengusut hal ini. Namun kenyataannya lembaga peradilan seakan tidak akur dalam menangani permasalan “keadilan” di negeri ini. Muncul tokoh-tokoh yang tersangkut antara lain menteri keuangan Sri Mulyani, jaksa agung Hendarman Supanji, Anggoro wijoyo, Anggodo wijoyo, sampai-sampai wakil presiden yang 2 bulan lalu dilantik menjadi orang yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini. Cicakvs buaya adalah judul yang memenuhi media masa. Cicak adalah sebutan untuk KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) dan buaya menggambarkan lembaga kepolisian. Selogan ini dilontarkan oleh Kabareskrim Polri Susno dwaji. Sampai-sampai DPR menbuat Pansus Hak Angket. Entah siapa yang harus bertanggung jawab atas uang 6,7 trilyun itu yang jelas Kasus bank century ini masih dalam perjalanan untuk penyelesaian.
  2. Kisah selanjutnya dating dari seorang ibu rumah atangga yang bernama Prita Mulya Sari. Seorang ibu yang curhat melalui email karena pelayanan rumah sakit. Prita menulis sebuah kritikan karena setelah anaknya dirawat dirumah sakit OMNI keadaan fisiknya tambah memburuk. Setelah pihak dari rumah sakit membaca surat elektronik tersebut pihak rumah sakit merasa adanya unsure pencemaran nama baik. Akhirnya ibu rumah tangga tersebut menjalani hukuman perdata sebesar 200-an juta rupiah dan hukuman pidana.  Apakah salah ketika seseorang mengkritisi pelayanan rumah sakit lalu pihak rumah sakit mengangkat kritika tersebut ke meja hijau. Bukankah setiap warga Negara mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapatnya? Dukungan dari berbagai kalangan dari ibu rumah tangga, pegawai, anak seekolah, mahasiswa, dll berupa koin muncul. Koin tersebut menggambarkan pecahan uang yang paling kecil dalam rupiah, kalau dikorelasikan adalah rakyat kecil. Hukuman perdata yang semula hanya 200 sekian juta namun setelah koin demi koin diakumulasikan menjadi setengah milyar lebih. Berita terakhir menyatakan pihak rumah sakit mencabut gugatan yang diberikan kepada Prita Mulya Sari baik pidana maupun perdata.
  3. Seorang ibu di perbatasan jateng-jabar mencuri 2 biji coklat (kakao). Setelah ketahuan mandor kebun tersebut ibu itu dilaporkan ke pihak kepolisian. Padahal ibu hanya ingin mengambil kakao untuk ditanam di kebunnya sebdiri. Akhirnya pihak kejaksaan memvonis hukuman penjara kepada ibu tersebut.
  4. Kisah selanjutnya dating dari seorang bapak yang hanya numpang nge-charge HP di apartemennya lalu digiring ke kepolisian. Bapak tersebut dituding telah mencuri listrik. Kejadian tersebut bermula saat pihak apartemen yang menaikkan tagihan listrik secara semena-mena. Karena tidak mau membayarnya listrik kamar bapak X dicabut. Saat ingin mengecharge HP tiba-tiba ia digiring oleh security aparttemen, dan akhirnya kasus ini dibawa ke kepolisian. Hukumanpun menimpa bapak tersebut.
  5. Seorang bapak yang setelah lelah bekerja disawah tiba-tiba mlihat semangka dan memakannya. Entah semangka itu milik siapa yang jelas bukan milik bapak petani itu. Ketika pemilik kebun semangka tersebut melihat ada yang mengambil semangkanya sama seperti yang lain petani tersebut dilaporkan ke polisi.
  6. Kisah yang baru saja terjadi adalah seorang bapa tua yang mencuri 2 sabun di nimi market dihukum kurungan 14 hari. Padahal bapak tersebut  sudah meminta maaf, mengembalikan dan membayar ganti rugi.

Yang jelas masih banyak lagi kasuskasus ketidak adilan kepada masyarakat. Rakyat kecil yang hanya mencuri barang yang kita nilai bernominal kecil tetapi bisa mendekam dibalik jeruji besi tapi seorang koruptor yang jelas-jelas merugikan Negara dan rakyat Indonesia lamban sekali penanganannya. Bahkan ada beberapa yang sama sekali tidak tersentuh. Katakanlah Soeharto yang menjadi bapak korupsi Indonesia setelah copot dari jabatannya sebagai presiden dan menjadi tersangkan korupsi uang rakyat tidak pernah di usut keberadaan kekayaannya. Sampai ia meninggalpun pihak kejaksaan tidak pernah berhasil memanggil Soeharto untuk duduk sikursi persidangan.

Ada apa dengan lembaga peradilan di Indonesia ini? Kenapa terlihat sekali pemihakan kepada orang yang berduit dari pada orang miskin. Kalaupun selogan yang biasa dilontarkan bahwa hukum itu buta berarti benar. Hukum tidak bisa memberikan keadilan untuk siapa yang benar dan siapa yang salah. Lalu apa fungsi hukum di Indonesia ini? Apakah Cuma sebagai syarat adanya Negara yang berkonstitusi? Percuma Indonesia mempunyai banyak sarjana Hukum tapi hanya untuk melupakan hokum.

Penegakan hokum perlu dilaksanakan sesuai dengan apa yang sudah tegaskan dalam konstitusi Negara ini. Bukan hanya sebagai syarat Negara. Tidak etis ketika lembaga peradilan malah bertengkar sendiri. Kepolisian yang harusnya mengayomi masyarakat masih dipertanyakan kredibilitasnya. Sebenarnya penegakan hokum mulai dari diri sendiri. Ketika dalam pribadi seorang manusia sudah mempunyai landasan untuk jalan diatas kebenaran maka akan benar segala kelakuannya tanpa campur tangan dari orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s