Kamar Mewah di Dalam Bui

Saat ini masyarakat dikejutkan dengan adanya fasilitas mewah yang ada didalam rumah tahan. Fasilitas tersebut hanya dimiliki segelintir perorangan saja. Ayin seorang napi yang mendekam di Rutan Pondok Bamboo yang dipenjara dalam kasus penyuapan Ada pula Alin dengan kasus narkoba. Mereka adalah salah napi yang menikmati berbagai kemewahan kamar sel. Mulai dari TV LCD, lemari pendingin, tempat tidur yang mewah, kamar mandi, AC, sampai-sampai ada ruang karaoke didalam kamar tersebut.

Didalam kehidupan bui yang sesak dan tidak bebas ternyata ada yang menikmati fasilitas mewah seperti di atas. Sedangkan ketika Menteri Hokum dan HAM mengunjungi Rutan yang ada di Batam sangat miris keadaannya. Kamar yang harusnya dihuni oleh 17 orang ternyata ditempati oleh 40an orang. Sangat berdesak-desakan memang. Bahkan disel pria hampir semua tidak memakai baju. Kamar 5×5 meter dengan 40 orang dan semua bernafas tidak bisa terbayang betapa panasnya ruang itu.

Fasilitas mewah dan fasilitas yang minim membuat masyarakat bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang bertanggung jawab atas semua hal tersebut? Tentu saja petugas yang ada didalamnya pun juga ikut terlibat dalam menciptakan fasilitas yang begitu macam itu. Tidak terlepas juga kepala Lapas (Lembaga Permasyarakatan) juga harus bertanggung jawab.

Di sebuah media menayangkan memang ada oknum yang memfasilitasi adanya kamar beserta barang-barang mewah pada Lapas. Tidak hanya di satu LP tapi di beberapa LP. Napi bisa menikmati fasilitas tersebut dengan harga 25 juta rupiah dengan perabotan seharga 75 juta.

Penegakan HAM memang harus diperuntukkan kepada setiap warga Negara tidak terkecuali orang-orang yang ada di Penjara. Kamar yang dihuni melebihi kapasitas dan mengadaan fasilitas mewah yang ada di rutan menyebabkan kecemburuan social. Untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dari individunya masing-masing. Ketika masyarakat Indonesia sudah anti untuk berbuat criminal maka hal tersebut tidak akan terjadi. Adanya suatu tindak criminal yang terjadi didalam masyarakat mempunyai 2 faktor yaitu niat buruk dan kesempatan untuk melancarkan niat tersebut. Ketika 2 faktor itu dipatahkan maka tidak aka nada lagi tindak criminal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s