Dialektika Kesadaran

Seseorang melakukan sesuatu atas dasar tujuan yang ingin diraih. Tujuan bisa diketahui ketika manusia membutuhkan suatu hal yang dapat membantunya dalam kehidupan. Maka saat itulah manusia dikatakan sadar.

Segala bentuk kesadaran bersumber dari dalam diri sendiri. Orang lain tidak bisa masuk kedalam kesadaran seseorang dan mengatur alam kesadaran. Orang lain hanya bisa memberikan sugesti dan sebagai filternya tetap diri sendiri. Kesadaran berarti “panggilan jiwa yang menggugah seseorang untuk berfikir dan bangkit atas keadaan yang lebih baik dan berbeda dengan sebelumnya”.

Ketika manusia melakukan sesuatu yang teryata itu adalah bukan dari alam kesadarannya sendiri maka perilaku manusia tersebut tidak akan berdampak signifikan. Bisa dianggap itu temporary, hanya sesaat. Seterusnya dia akan kembali seperti sedia kala. Hanya saja teori yang harus dibangun adalah orang lain sebagai penggiring dan objeknya kita biarkan bergerak sesuai kehendaknya sendiri. Objek tersebut akan kita giring menuju tujuan sesuai yang diharapkan oleh kita dan objek tersebut. yang perlu digaris bawahi adalah objek akan bergerak sendiri dan kita adalah sebagai penggiring bukan sebagai penuntun.

Banyak yang keliru saat menerjemahkan tentang kesadaran, apalagi didunia pendidikan. Mereka lebih mengekang untuk mendapatkan suatu output yang diinginkan biasanya objek dituntun kearah tujuan. Padahal belum tentu apa yang diinginkan objek sesuai dengan cara subjek. Sehingga muncullah kontradiktif antara kesadaran dan keinginan yang dimana tidak akan pernah bertemu karena asal mulanya adalah dengan cara mengekangan.

Hubungan nafsu dan akal dalam kesadaran

Allah SWT memberikan manusia berupa akal dan nafsu yang membedakan dengan makhluk lain. Sehingga manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna. Bukan berarti kesempurnaan itu melenakan manusia sehingga manusia tidak menggunakan akal dan nafsu dengan sebaiknya. Akal dan nafsu harus berjalan berdampingan tidak bisa antara akal dan nafsu digunakan satu per satu. Hal tersebut akan berdampak kepada tidak seimbangnya muatan atau nilai yang terkandung didalam perilaku manusia. Banyak orang yang hanya menggunakan akal pikiran tetapi tidak menggunakan hati. Orang korupsi menggunakan akal tetapi tidak menggunakan hati. 2 kelebihan manusia tersebut akan jauh lebih berguna ketika begunakan secara seimbang.

Pada diagram diatas menjelaskan tentang hubungan kesadaran, akal, dan nafsu. Sugesti yang diterima diri bisa bersumber dari luar maupun dari dalam. Sugesti ini merupakan referensi manusia tentang suatu hal. Dari input tersebut akan diproses melalui akal dan nafsu. Akal1 menunjukkan terhadap referensi yang bisa dianggap logis sedangkan nafsu adalah filter yang menyaring referensi lebih ke bagian penjiwaan. Setelah itu akan didapatkan hasil berupa kesadaran. Berbeda dengan akal1, akal2 lebih bertugs untuk menjelaskan secara fisik bagaimana aplikasi kesadaran yang nantinya akan menjadi efek atas kesadaran tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s