Arsip Kategori: My Faith

Aku Memilih Karena Agamamu

“Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Maha suci Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi.

Memilih pasangan hidup bukan seperti memilih baju dipasar. Yang tampak baguslah yang dipilih, bukan seperti itu. Menurut hadist diatas ada 4 faktor seorang laki-laki menikahi seorang wanita diantaranya adalah karena kekayaan, kedudukan, kecantikan, dan agama.

banyak orang mencari pasangan hidup hanya melihat dari luarnya saja. Kecantikan adalah faktor yang mudah dilihat secara langsung. Tidak heran ada jargon yang menyebutkan “cinta pada pandangan pertama”. Kekayaan adalah faktor yang lebih pada materi. hidup di dunia bukan hanya untuk mencari kekayaan saja. Orang yang mempunyai prinsip kapitalis akan menganggap hidup didunia hanya sekali untuk berfoya-foya dan bagaimana mengumpulkan banyak uang. tetapi ingat, sebanyak apapun harta kita di dunia tidak akan kita bawa mati. selanjutnya adalah kedudukan, lelaki menikahi menikahi wanita karena ingin kedudukan didunia. orang semacam ini akan terus menerus mencari yang namanya posisi dengan cara apapun.

yang terakhir adalah orang yang menikahi karena agamanya. Agama Merupakan ilmu untuk hidup. Tanpa agama hidup tidak akan terarah kepada kebaikan. Menikah tentunya bertujuan untuk mencari ridho Alloh semata. “Barangsiapa kawin (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separo agamanya, karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separonya lagi” (HR. Al Hakim dan Ath-Thahawi). Betapa indahnya jika keluarga yang dibangun berdasar atas kasih sayang yang diberi Alloh. Predikat keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah adalah yang dicita-citakan setiap keluarga. Tentunya bangunan keluarga akan kuat akan melindungi yang ada didalamnya baik di dunia dan di akherat.

Bagaimna cara menghadapi Cobaan

Setiap manusia pasti pernah mengalami cobaan. Segala cobaan yang di berikan Allah kepada manusia tidak sia-sia diberikan. Namun ada hikmah dibalik segala yang diberikan Allah. Tergantung bagaimana orang tersebut menanggapinya. Cobaan tidak selamanya berupa hal-hal yang dirasa menyusahkan tapi cobaan juga bisa dating berupa hal yang dirasa enak.

Kita harus percaya bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia karena Allah Maha Bijaksana. Keimanan seseorang akan bertambah setelah ia mengalami cobaan. Maka orang tidak bisa dikatakan beriman ketika orang itu belum dicoba keimanannya dengan cobaan.

Kesabaran dan keikhlasan sangat diperlukan dalam menghadapi cobaan yang tengah menghadang. Memang terkadang sulit untuk menumbuhkan dua hal itu. Tapi itu adalah kunci dalam kehidupan untuk memperoleh hidup yang damai dan tenteram. Kesabaran untuk menerima apa yang diberi Allah kepada kita dan percaya bahwa Allah akan memberi cobaan kepada hamba-Nya sesuain dengan kemampuan orang tersebut. tentunya akan salah persepsi apabila sabar hanya berdiam diri dan menunggu keajaiban. Allah juga mengajarkan manusia untuk tawakal dan ikhtiar. Bukan hanya berpangku tangan. Tetapi tetap berusaha sesuai dengan kemampuan untuk kembali ke keadaan yang semula. Manusia hanya bisa berusaha dan Allah adalah Penentu keadaan yang pantas untuk diberikan kepada manusia tersebut.

Keihlasan dalam menghadapi cobaan adalah percaya kepada Allah karena Allah mempunyai rencana lain dibalik itu semua. Dan segala yang diberi Allah merupakan kebenaran. Jadi manuisia hanya bisa berhusnudzon kepada Allah.

Hidup ini seperti roda yang berputar. Kadang diatas dan kadang dibawah. Tergantung bagaimana manusia memposisikannya. Percayalah bahwa habis gelap terbitlah terang. Dinamisasi kehidupan akan selalu berputar untuk mengajarkan kepada manusia untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta. Tujuan penciptaan manusia hanya 1 yakni untuk menyembah Allah.

Muhasabah Diri

dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS Adz- Dzariat:56)

dari ayat diatas jelas bahwa tujuan penciptaan manusia didunia tidak lain adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. Apakah Allah perlu disembah? Allah tidak akan bertambah berkuasa jika manusia menyembah-Nya dan Allah tidak akan berkurang kebesaran-Nya ketika manusia tidak menyembahnya. Dalam hal menyembah kepada Allah adalah suatu kebutuhan manusia sebagai makhluk ciptaan Sang Konseptor Alam semesta ini. Kita mengenal Allah sebagai Maha Pemberi nikmat dan hidayah kepada semua manusia yang senantiasa berjalan dijalannya.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS Ash-Shaf:4)

Dunia ini merupakan jembatan penghubung antara alam ruh dan akherat. Kalau orang jawa bilang bahwa dunia ibarat mampir ngombe (hanya mampir minum). Kalimat bisa dianggap benar karena dunia yang kita duduki sekarang ini tidak kekal. Kehidupan yang kekal sesungguhnya adalah kehidupan setelah kematian. Namun kita tidak bisa berpasrah diri bahwa semua ini sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa.

…Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri… (Ar Rad’:11)

Ayat secara tegas bahwa Allah telah menentukan nasib seseorang sebelum dia dilahirkan didunia tapi ketika manusia tersebut bisa ikhtiar atau berusaha dengan daya dan upayanya maka nasib tersebut dapat dirubah sesuai kehendak Allah SWT. Maka hidup dalam rangka hidup di dunia ini kita sebagai umat manusia harus selalu berbuat kebaikan sebagaimana hadist Rasulullah yang berbunyi “ Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada manusia”. Selalu berbuat baik kepada manusia dapat menambah keimanan kita kepada Allah.

Terdapat 2 jalur untuk mengadakan hubungan di dunia ini yaitu Habluminallah (hubungan manusia dengan Allah) dan Habluminannas (hubungan manusia dengan sesama) keduanya harus berjalan secara seimbang. Karena dua hal itu merupakan jalur ibadah yang akan menambah pahala untuk bekal di akherat nanti. Harta yang kita kumpulkan pada waktu di dunia tidak akan dibawa mati. Namun yang akan dibawa mati adalah amal perbuatan selama hidup di dunia.