Brand New Day

Alhamdulillah kali ini saya bisa menulis lagi. Kali ini saya akan saya dan keluarga baru saya. Karena status menikah sudah saya sandang. Tanggung jawab seburkan uang, tapi acara untuk mengenalkan dan sebagai syiar bahwa saya dan istri sudah halal.orang suami pun saya pegang.

Alhamdulillah pada 3 November 2014 saya menikah dengan seorang wanita yang menawan hati saya. Kami memutuskan menikah setelah kurang lebih 3 tahun berkomitmen. Tidak singkat waktu 3 tahun untuk mengenal satu sama lain. Kenapa sampai 3 tahun?? banyak pertimbangan dari kami dan keluarga tentunya. Bukan masalah mahar dan ijab qobul. hehehe…

Resepsi pernikahan kami laksanakan pada 9 November 2014. Tidak ada kesan mewah. Tidak ada ritual jawa, tidak ada ganti busana sampai berkali-kali, dan tidak ada hiburan. Semua serba sederhana. Kami berkomitmen pernihakan bukan acara menghambur-hamburkan harta tetapi untuk mengenalkan dan syiar bahwa saya dan pasangan sudah sah menjadi suami-istri.

Kini sudah 3 bulan usia perkawinan kami. Kemarin pagi hari saya diberi tahu Istri bahwa dia hamil. Suatu anugrah yang belum pernah saya dapati. saya akan menjadi seorang bapak. semoga bayi kami sehat sampai pada akhirnya dia lahir ke dunia. Aamiin Yaa Robbil’alamiin

Menulis Lagi

lagi-copyLama juga saya tidak mengetik satu, dua, tiga kalimat atau bahkan lebih di blog ini. mencoba menggali kembali ide yang sempat tak tertuliskan, mungkin itu yang bisa dilakukan. yaa… yang jelas targetnya cuma bisa lagi menulis. sekedar mengisi waktu luang, atau meluangkan waktu. hehehehe… tunggu tulisan terbaru saya di blog ini.

 

Aku Memilih Karena Agamamu

“Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Maha suci Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi.

Memilih pasangan hidup bukan seperti memilih baju dipasar. Yang tampak baguslah yang dipilih, bukan seperti itu. Menurut hadist diatas ada 4 faktor seorang laki-laki menikahi seorang wanita diantaranya adalah karena kekayaan, kedudukan, kecantikan, dan agama.

banyak orang mencari pasangan hidup hanya melihat dari luarnya saja. Kecantikan adalah faktor yang mudah dilihat secara langsung. Tidak heran ada jargon yang menyebutkan “cinta pada pandangan pertama”. Kekayaan adalah faktor yang lebih pada materi. hidup di dunia bukan hanya untuk mencari kekayaan saja. Orang yang mempunyai prinsip kapitalis akan menganggap hidup didunia hanya sekali untuk berfoya-foya dan bagaimana mengumpulkan banyak uang. tetapi ingat, sebanyak apapun harta kita di dunia tidak akan kita bawa mati. selanjutnya adalah kedudukan, lelaki menikahi menikahi wanita karena ingin kedudukan didunia. orang semacam ini akan terus menerus mencari yang namanya posisi dengan cara apapun.

yang terakhir adalah orang yang menikahi karena agamanya. Agama Merupakan ilmu untuk hidup. Tanpa agama hidup tidak akan terarah kepada kebaikan. Menikah tentunya bertujuan untuk mencari ridho Alloh semata. “Barangsiapa kawin (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separo agamanya, karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separonya lagi” (HR. Al Hakim dan Ath-Thahawi). Betapa indahnya jika keluarga yang dibangun berdasar atas kasih sayang yang diberi Alloh. Predikat keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah adalah yang dicita-citakan setiap keluarga. Tentunya bangunan keluarga akan kuat akan melindungi yang ada didalamnya baik di dunia dan di akherat.

UU Tentang Penggunaan Sirine

Mengacu pada UU Nomor 14 Tahun 1992 dan Pasal 72 PP Nomor 43 Tahun 1993, tentang Prasarana dan Lalu Lintas, bahwa isyarat peringatan dengan bunyi yang berupa sirene hanya dapat digunakan oleh:

a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas termasuk kendaraan yang diperbantukan untuk keperluan pemadam kebakaran.
b. Ambulans yang sedang mengangkut orang sakit.
c. Kendaraan jenazah yang sedang megangkut jenazah.
d. Kendaraan petugas penegak hukum tertentu yang sedang melaksanakan tugas.
e. Kendaraan petugas pengawal kendaraan Kepala Negara atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara.

Sedangkan di PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 1993 TENTANG KENDARAAN DAN PENGEMUDI, Pasal 66 disebutkan:
Lampu isyarat berwarna biru hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor :

a. Petugas penegak hukum tertentu.
b. Dinas pemadam kebakaran.
c. Penangulangan bencana.
d. Ambulans.
e. Unit palang merah.
f. Mobil jenazah.

Dan Pasal 67, disebutkan : Lampu isyarat berwarna kuning hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor :

a. Untuk membangun, merawat, atau membersihkan fasilitas umum.
b. Untuk menderek kendaraan.
c. Untuk pengangkut bahan berbahaya dan beracun, limbah bahan berbahaya dan beracun, peti kemas dan alat berat.
d. Yang mempunyai ukuran lebih dari ukuran maksimum yang diperbolehkan untuk dioperasikan di jalan.
e. Milik instansi pemerintah yang dipergunakan rangka keamanan barang yang diangkut.
Bagi pemilik kendaraan pribadi dilarang membunyikan sirine dan memasang lampu rotator jika tidak termasuk dari golongan tersebut di atas.

Komitmenku dan mu

“Bukankah KOMITMEN itu adalah janji yang harus dibayar?
Atau jika tidak maka jangan sampai kemunafikan mengikuti jiwa-jiwa yang suci,
Yang mematikan hati setiap insan disebelahmu dan engkau sendiri,
Jika kamu ingat dia adalah kekasihmu, jika kamu rasa dia akan menguatkanmu, peluklah dan genggam dia seperti akar yang kuat tertancap…”

POLA KEPEMIMPINAN

Pada dasarnya manusia diciptakan di muka bumi ini adalah sebagai pemimpin. Dalam hal ini untuk menguasai bumi dan seisinya. Termasuk didalamnya adalah memimpin diri sendiri. Ada pula yang memimpin suatu kelompok, umat, Negara, dll. Namun banyak yang masih menerka-nerka bagaimana menjadi pemimpin yang baik?

Mahasiswa berdemo menuntut kepada pemerintah bahwa kepeminpinannya telah gagal dalam mengawal Negara kepada sebuah kesejahteraan. Artinya kepemimpinan pemerintah kurang bisa diterima oleh kalangan tertentu. Seorang kepala sekolah dikeluarkan karena korupsi sejumlah dana kas sekolah. Kepala sekolah tersebut adalah pemimpin tetapi dia tidak bisa mengemban amanah sebagai kepala sekolah. Dari ilustrasi diatas menunjukkan beberapa pemimpin yang dinilai gagal dalam mengemban kepemimpinan.

Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia lakukan selama ia memimpin. Jika manusia dilahirkan di bumi sebaagai pemimpin maka kelak manusia akan dimintai pertanggung jawabannya.

Nabi Muhammad SAW mencontohkan kepada kita dengan gaya kepemimpinannya. Beliau memiliki 4 sifat yaitu:
1. Sidiq (benar/ jujur)
2. Amanah (dapat dipercaya)
3. Tabligh (menyampaikan)
4. Fatonah (cerdas)
Dari keempat sifat tersebut tentunya dapat menjadi rujukan bagi setiat umat untuk mencontoh gaya kepemimpinan Rasululloh.

Yang perlu dipahami setiap pemimpin adalah ia memimpin. Artinya ada tanggung jawab moral. Pemimpin adalah uswah (contoh) bagi yang dipimpin. Ada yang menyebutkan bahwa “ moral rakyat mencerminkan moral pemimpin”. Maksud dari kalimat tersebut adalah kita bisa melihat bagaimana pola kepemimpinannya dengan cara melihat dari yang ia pimpin.

Kebijaksanaan diperlukan dalam sebuah kepemimpinan. Apa yang dilakukan seorang pemimpin haruslah tidak mementingkan kepentingannya sendiri, akan tetapi juga mementingakan kepentingan orang banyak. (lebih lengkap tentang kebijaksanaan bisa dibaca di tulisan “Bagaimana menjadi insane yang bijaksana”)

Pemaknaan cerdas bukan hanya pintar pada pikiran saja tetapi juga menggunakan perasaan. Agar keduanya seimbang maka seorang pemimpian harus bisa memposisikan dirinya pada kondisi apapun.

Pembentukan pola kepemimpinan juga harus dibangun dari bawah. Artinya seorang meminpin lebih bisa mendengarkan bawahannya dari pada ia didengarkan. Mendengarkan apa saja yang dikeluhkan bawahannya, sehingga ia bisa lebih objektif terhadap apa yang akan dilakukan.

Tidak lepas dari itu adalah memahami. Memahami bawahan. Terkadang orang terjebak oleh egosentris yang memposisikan manusia sebagai makhluk yang tak terbatas. Artinya orang yang memiliki egosentris masih belum bisa bersikap dewasa dalam menghargai orang sekelilingnya. Ia akan cenderung memaksakan keingingananya kepada orang lain. Jeratan inilah yang kemudian diistilahkan menjadi ego. Tentunya pemimpin yang yang mempunyai ego tinggi akan terjebak ke dalam akuisme. Al hasil nihil untuk menerapkan kepemimpinan yang berasaskan kebersamaaan. Terdapat pepatah yang mengatakan mengaLah itu bukan karena kalah.

Tetap berpegang teguh pada agama merupakan pedoman yang wajib ketika menjadi seorang pemimpin. Agama telah mengajarkan cara-cara meraih kebaikan ketika manusia dibumi. Maka tidak ada salahnya jika kita semua mengikuti ajaran yang telah ditorehkan agama.

Penyimpangan norma social dan norma agama tentunya tidak terlepas dari tidak tahunya atau dengan artian terlepasnya orang tersebut dengan tali agama. Dalam hidup manusia tidak tahu kapan ia akan dipanggil untuk dimintai pertanggung jawabannya. Maka dari itu setiap manusia wajib mempersiapkan hidupnya untuk kematian agar suatu saat ia dipanggil maka ia sudah siap bekal untuk kesana.

Blog ini adalah blog yang dibangun atas dasar keikhlasan dan kebijaksanaan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.